Saat tengah
menjalin mahligai rumah tangga selama 1 tahun, tiba-tiba saja Panji memutuskan
untuk merantau
“ Mia, maafkan aku, aku akan
pergi jauh meninggalkanmu?”
“ Kamu mau kemana, Panji?”
“ Aku akan pergi ke Australia?”
“ Kenapa kau pergi sejauh itu?”
“ Orang tuaku menghendaki ku
untuk bekerja di sana!”
“ Tapi kamu tahu kan aku sedang
hamil?”
“ Bgaiku, sungguh teramat berat
meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini, tapi bagaimana dengan biaya kita
kalau aku tidak merantau?”
“ Haruskah sejauh itu?”
“ Kamu percaya akan ketulusan
cinta kita kan?” ujar Panji meyakinkan. Mia mengangguk
Dengan setia Mia
menunggu kepulangan Panji selama 8 tahun, Tak terasa Izza juga sudah tumbuh
menjadi anak yang tak lagi kecil. Selama
itu pula Mia berusaha menghubungi Panji atau berkirim surat. Namun surat-surat
yang ia berikan pada Panji dikembalikan lagi oleh pak pos. Namun Mia tak
gentar, ia berusaha untuk mencari tahu keberadaan suaminya kini.
“ Ma, ayah ku gimana sih? Kok
aku gak pernah dicium ayah seperti teman-temanku?” dada Mia terasa sesak tak
menyangka anaknya kan bertanya seperti itu
“ Aku bosan, Ma setiap hari
teman-temanku menanyakan dimana ayahku?” Lidah Mia terasa kelu, tak dapat
berkata lagi, hanya buliran air mata yang mewakili perasaannya.
“ Mama kenapa menangis?” ujar
Izza polos.
“ Maafin Izza ma? Izza janji gak
akan Tanya lagi tentang ayah, Izza gak mau mama menangis lagi? Maafin Izza,
Ma?” ujar Izza sembari menyeka air mata mamanya
Suatu sore, telepon rumah Mia
bordering
“ Halo, Mia?”
“ Mas panji??”
“ Mia maafkan aku?”
“ Mas Panji, sudah
bertahun-tahun aku setia menantimu? Sekarang kamu dimana?”
“ Mia, terima kasih atas semua
kesetiaanmu padaku, tapi ketahuilah kita
tak mungkin bersatu lagi?”
“ Memang kenapa? Aku masih
disini untukmu dan terus setia bersamamu?”
“ Mia, dimana si kecil kita?”
“ Izza, dia sekarang tumbuh
menjadi lelaki kuat yang sellau melindungiku, dan tak ingin melihatku menangis.
Dia sangat merindukanmu. Apa kau tak rindu denganku dan anakmu?”
“ Aku sangat ingin kembali menjadi
keluarga yang utuh lagi bersamamu, namun itu tak mungkin?”
“ Kenapa tak mungkin?”
“ Mia, Izza sekarang mempunyai
adik!”
“ Maksudmu?”
“ Mia, maafkan aku?”
“ Apa maksudmu?”
“ Mia, dengarlah. Maafkan aku,
aku telah menikah lagi dengan wanita lain selain kau!”
“ Apa maksudmu?”
“ Mia, aku telah menikah lagi
tanpa sepengetahuanmu?”
“ Apa??”
“ Mia, ku mohon mengertilah
posisiku! Aku dipaksa oleh orang tuaku melakukan itu, kau tahu kan mereka tak
pernah merestui jalinan cinta kita. “
“ Kamu ingatkan janjimu kepadaku?”
“ Iya aku tak akan pernah
melupakan janji itu. Bahwa apapun yang terjadi aku tidak akan menduakan cintaku
selain kamu. Tapi mengertilah kondisiku??’’
“ SEkarang pilihlah jalan
terbaik, berpisah denganku atau kau mau berbagi kisah cinta dengan wanita lain.
Namun ketahuilah Mia sampai kapanpun hanya kau yang dapat membahagiiakanku.
Maafkan aku yang telah menyia-yiakan mu. “ lanjut Panji
“ Biarlah aku hidup bahagia
hanya dengan Izza. Biarlah Izza menganggap bahwa ayahnya telah meninggal” ujar
Mia disela-sela isak tangisnya
“ Baiklah Mia, jika itu pilihan
yang terbaik. Aku berjanji tidak akan menemui lagi jikalau kehadiranku hanya
akan mencoret luka di hatimu?”
“ Kau kan selalu ku kenang abadi
di hatiku walau bayangmu pun tak lagi terlintas di fikirku, Saat kau melangkah
pergi jauh dariku dan meninggalkanku untuk selamanya. “
KLIK
Mia menutup ganggang telepon .
Aku tak mengerti? Sepengetahuan ku hanya ada
satu bintang yang menyinari hatiku, yaitu kamu. Dan ku mohon jangan kau sia-sia
kan seseorang yang telah setia mencintaimu…… Panji,,,, namun sekarang kau
benamkan aku dari kepalsuan cintamu…
5
June 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar