Senin, 05 Mei 2014

gelap malam, tanpa bintang

Di malam gelap yang hening tak berbintang
Sekilas ku lihat bayangmu
Temaram dalam kegelapan
Hanya ada satu bintang yang bersinar di hatiku
                   Cahya bintang yang tak kan meredup
                   Ku ingin  kau simpan bintang di hatiku
                   Agar kita dapat merasakannya bersama
Bintang yang berkerlip mulai meredup
Senyum bintang tak lagi menghiasi malam
Malam gelap dan semakin gelap
Namun bintang dalam hati ini kan tetap bersinar
Selamanya,,,
                   Walau kini kau jauh
                   Kan selalu ku jaga bintang ini
                   Agar cahyanya takkan meredup
                    Tuk selamanya..
Akhir-akhir ini, setiap  senja menjelang malam Ranan mendadak mellow,  Rinai hujan lebat  yang tak henti dari sore tak menghalangi niat Ranan menuju taman dekat rumahnya  untuk sekedar melihat indahnya malam gelap yang berbintang atau sekedar menulis puisi tentang Bintang ,cowok super cakep yang selama ini dicintainya.  
“ Hari ini kenapa langit  begitu gelap! Aku tak bisa melihat bintang! Aku rindu melihatnya. Bulan juga tak Nampak tersenyum. Aku begitu merindukan saat-saat ketika bulan dan bintang tersenyum manis ke arahku.Aku ingin Bintang juga sedang meihat kemerlip bintang seperti yang ku lakukan. Dan semoga bintang yang sama yang saat ini ku lihat dengannya.” Gumam Ranan pada dirinya sendiri
Dari kejauhan arvin, kakak sepupu Ranan diam-diam memperhatikan Ranan.
“ Ranan, Ngapain kamu malam-malam gini kesini. Ga baik Cewek malam- malam kok keluar sih? Gak takut ada kucing garong? Hah?” Ranan menoleh.
“ Eh,kak  ARVIN? Ngapain kamu disini? “
“ Suntuk banget aku di rumah! Pengin cari udara segar? Klo kamu?”
“ Aku pengen liat bintang!”
“ Bintang? emang ada gelap gini?” Ranan menggeleng. Keduanya termenung asyik dalam pikiran masing-masing.
Keesokan harinya, saat senja mulai gelap, ARVIN telah menunggu Ranan di taman tempat mereka biasa relaksasi, hehe
“ Tumben lama banget?”
“kak  ARVIN? Kamu dah lama disini?” ARVIN mengangguk
 “kak,  Aku menyukai Bintang! Bisa kau bantu aku?”
“ APAAA?” ARVIN tercengang. Dia tahu betul bagaimana sifat Bintang. Dia Cowok super cool yang menjadi incaran banyak wanita muda dan dewasa haha. Dan dia tahu betul siapa Ranan adik sepupunya, Ranan Hitam manis namun dia terlalu cengeng dan ia yakin Bintang tak akan menyukai wanita seperti Ranan. Siapa pun yang memandangnya saat menangis, rasanya ingin muntah.
“ Ga salah?kamu naksir sahabatku”
“ He’em. Bantuin aku ya,kak?” angguk Ranan mantap
“ Tapi kamu tahu kan ? siapa bintang.!”
“ Aku siap kok menerima apapun yang terjadi. Aku tahu akan sakit mencintai Dia.” Ujar Ranan pasrah
“ Bukannya aku merendahkan mu, Nan? Namun ?” melihat wajah melas Ranan, ARVIN tak kuasa menahan menolak permintaan Ranan.
“ Okey aku bantu.”
Dan setelah terjadi kesepakatan antar adik dan kakak sepupu itu, Ranan menjadi semakin dekat dengan Arvin Ranan menitipkan coklat untuk Bintang dan bertanya banyak tenntang binang. Pokonya all about Bintang. Namun percuma saja, Bintang tak pernah mengubris Ranan. Ia tidak mencintai Ranan. Sia-sia lah perjuangna Ranan selama ini.
Di tengah guyuran hujan yang lebat,. Ranan duduk terdiam di taman. Hanya sepi yang menemaninya. Hujan yang terus menyentuh kulitnya, tak ia gubris rasa dingin yang mulai menyerangnya.
“ Kenapa kamu bersedih, Nan?” ucap ARVIN seraya duduk di samping Ranan.
“ Eh, Kak Arvin ! Aku tak apa-apa!”
“ Ku lihat kau menangis? Kenapa?”
“ Aku hanya ingin satu jam saja bisa bersama dengan bintang. Melihat gemerlap bintang di langit gelap. Dan andai itu semua terjadi, aku tak ingin mengakhirinya. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untuk selalu menjaganya. Andai diberi satu kesempatan, satu jam saja aku ingin membuat menjadi satu jam terindah dalam hidupnya. Namun, kesempatan itu tak jua datang. Walau sekian lama ku menantinya.”
“ Aku rasa kamu lagi patah hati”
“ Iya kak sekarang aku sadar, bahwa aku tak pantas mencintai lelaki seperti Bintang, dia begitu bersinar dan jauh di langit, sementara aku hanya manusia biasa yang hanya bisa setiapm malam merindukan gememrlap Bintang, Huh…! Ga akan mungkin Bintang kan bersinar di gelapnya malamku,”
“ Sok puitis kamu, sudahlah hapus air matamu, percaya deh kalau kamu nangis gitu tambah jelek aja, hehe!”
“ Ihh, kak Arvin gitu ah?!”
“ Hehehe. Sdah pulang sana, ntar masuk angin loh,”
“ Iya deh, met malem kak?”
“ Gud Nite”
Sampai rumah
“ Dari mana saja kamu!?” Mama Ranan sudah memasang muka sanggar di depan pintu
“ Dari taman!”
“ Ngapain jam segini kamu ke taman!”
“ Aku pengen aja liat bintang, lagian ada kak Arvin kok?”
“ Arvin??”
Ranan mengangguk,
“ Udah ya, Ma? Ranan ngantuk deh!”
Ranan kamu tahu kan kalau kamu dan Arvin masih ada ikatan darah, kamu ga boleh pacaran sama dia!”
“ Akh, mama aku tahu lah!”
Sesampainya di kamar Ranan mulai berpikir tentang apa yang diucapkan mamanya tadi,
“ Kenapa ya, setiap di samping kak Arvin aku selalu merasa damai, dia selalu ada di saat aku butuhkan , dia selalu bersedia menyediaan bahunya untukku menangis, dia begitu baik dan perhatian ma aku, emang sih kak Arvin tipe ku banget, tapi masak sih aku jatuh cinta padanya? Mungkin aja, namun apa pantas aku mencintai kakak sepupuku, tapi cinta itu kan buta? Apa salahnya aku mencintai dia?”
Keesokan harinya
“ Kak Arvin beneran akan ke Australia?”
“ Iya, jaga diri kamu baik-baik diri kamu ya??”
“ Kini ku sadari bahwa kak Arvin adalah orang yang tepat untuk ku cintai, aku tak peduli walaupun kita masih sedarah!”
               
                                                                                                                28 maret 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar