Suatu senja di laut....
“ Alyaa? Sedang ngelamun apa
disini?”
“ Raaif.. aku ga nyangka kita
bisa bertemu disini.. sudah lama kita ga berjumpa? Apa kabar kamu?”
“ Baik, seperti yang kau lihat?”
“ Tapi, rasanya kau berbeda..
terlihat lagi suntuk.. lagi banyak masalah ya?” tanya Alya penuh perhatian
“ Akh, kamu al? Selalu perhatian
sama aku?”
“ luka lama yang mulai mengering,
kini nkembali terkoyak! Kenangan antra kau dan aku masih berputar dalam
benakku, aku ga tahu kenapa Allah Swt mempertemukan aku dan kau? Aku selalu
berdoa agar kita bisa berjumpa lagi.. aku percaya Allah Swt tak pernah tidur.
Aku percaya dia akan menjawab doaku, aku percaya Allah tidak akan pernah
meninggalkanku.. aku percaya suatu saat
nanti kita akan bertemu.,dan kamu tahu, aku selalu menunggumu.. aku menunggu
untuk bisa bertemu denganmu?”
“ Alyaa, kamu jangan terlalu
berharap kepadaku, aku takut kamu akan kecewa.. maafkan aku Alyaa?” Alya
mengangguk lemah, ternyata orang yang dulu pernah mengisi hari-hari indahnya
kni tak lagi mencintainya.
“ Aku telah mempunyai anak?” ujar Raaif
kemudian. Alya menoleh ke arah Raaif, dengan perasaan hancur dan berkecambuk
meresahkan dadanya
“ Lalu kenapa kau hanya bersama
anakmu? Dimana istrimu?” Raaif mengehela nafas panjang, terasa amat sulit..
“ setiap sore aku selalu kesini, mengenang
almarhum istriku.. aku selalu pandangi luasnya lautan ini, dan selalu
kupanjatkan doa agar dia tenang di sana..?”
“ Maaf kalau aku membuat kamu
sedih? Aku sunggub tak tahu..”
“ 3 bulan yang lalu istriku
melahirkan putri cantik buah cinta kita, namanya Ranaa, kamu tahu, baru berumur 3 bulan ia
harus kehilangan kasih sayang dari seorang ibu. Betapa kasihan dia, oh.. putri
kecilku yang sangat malang?”
“ Kenapa dengan istrimu?”
“ Istriku melahirkan di Sumatra,
teapt setelah umur 3 bulan, istriku ngotot ingin kembali ke Jawa. Aku tak bisa
menolak keinginannya walaupun kondisinya masih sangat lemah..” Raaif tak kuasa
melanjutkan ceritanya, Alya mengelus pundak orang yang dulu bahkan smapai
sekarang masih ia cintai..
“ Sabar, aku tahu amat sulit
menjadi single parent, tapi kamu harus percaya. Kamu bisa melewati semua ini,
dan kamu akan terus meilihat perkembangan Ranaa tumbuh menjadi gadis cantik?”
“ Alya, istriku meninggal di
kapal itu. Saat mengarungi ganasnya lautan, istriku mengalami pendarahan hebat,
hatiku terkoyak melihat istriku yang smeakin lemah dan semakin lemah, aku tak
tahu samapai dimana dia akan bertahan.. dan tepat saat adzan subuh
berkumandang, istriku meninggal dunia. Ku pandangi Ranaa yang masih begitu merah,
kuciumi dia berkali-kali . kubisikan kata2 cinta padanya walauun dia tak
mengeti bahwa, sekarang di dunia hanya tonggal aku dan dia seorang..” Raaif
berusaha tegar, ia mengambil nafas panjang. Teramat sulit untuk mengenang
kembali kejadian tragus yang menimpa istrinya. Perlahan-lahan tumpah juga air
mata Alya, dia tahu betapa berat ujian yang dialami mantan kekasihnya waktu SMA
itu.
“ Perjalanan saat itu masih
sekitar 3 hari, aku tahu mayat istriku akan membusuk sebelu m sampai ke jawa,
penumpang kapal yang prihatin kepadaku terus menghiburku dan menasehatiku
hingga aku tegar. Dengan berat hati akhirnya aku putuskan untuk menengelamkan
istriku ke laut.. setelah itu, Aku berlari sepanjang kapal , berharap ada
seorang ibu yang berbaik hati mau menyusui anakku.. semua orang memandangku
dengan iba, Alhamdulillah ada wanita berhati mulia yang mau menyusui anakku..”
ujar Raaif sembari mnecium sayang kepada Ranaa
“ Anakmu sangat cantik, pasti
mirip ibunya..?”
“ tentu.. matanya indah seperti
ibunya, bibirnya tebal seperti bibirku.. hheehhh.. Ranaa adalah penyemangat
dalam hidupku, aku ga tahu ketegaran dari mana yang aku dapat kecuali dari
Ranaa. Ranaa yang begitu kecil bisa tegar.. dia tak pernah menangis, aku..
merasa kecil dibandingkan dengan dia.Dia yang memberi aku ketegaran untuk terus
bertahan.. walau itu terasa sulit.”
Lama Alya dan Raaif terdiam,
sejurus kemudian, Raaif membuka kembali topik lain.
“ Kau sudah menikah, Alya?”
“ A..A..ku?” tiba-tiba datang
seorang lelaki yang menyapa alya
“ Alya, kemana saja sih? Aku cari
kamu tahu?”
“ Emm.. Ramzii? Aku bertemu
dengan sahabatku..? kenalkan namanya Raaif?”
“ Ramzi?”
“ Raaif?” ujar Raaif sembari
mengenggam tangan Ramzi
“ Oh ya, kamu dapat undangan
pernikahan kita?” tanya Ramzi, Raaif pun terperanjat ia menoleh ke arah Alya
yang tertundku
“ Belum.” Jawab Raaif datar
“ Jangan lupa besok datang ya? “
“ InsyaAllah..?” jawab Raaif
singkat. Alya tak henti menatap wajah Raaif, ia sebenarnya sangat ingin memeluk
Raaif, namun keadaan tak bersahabat dengannya.
“ Aku ga bisa membiarkan Ranaa
dan Raaif sendiri. Kasihan Ranaa di usianya yang masih kecil dia harus
kehilangan orang yang telah melahirkannya. Raaif sebenarnya aku menikah dengan
Ramzii karena ingin membalas budi baik ayah Ramzii yang telah menyekolahkan ku
hingga sekarang au berhasil.. aku mencoba utnuk mencintai Ramzii seperti aku
mencintaimu, namun smeakin aku mencoba, semakin aku merasa gagal untuk
mencintai dia, If?Entah kenapa kau terus berada dalam fikirku..?” batin Alya.
Suatu sore, Raaif berkunjung ke
rumah Alya.
“ Alya, apakah kau mau membantu ku
menjaga Ranaa? Aku akan merantau ke Bahrain. Disini aku tak punya siapa-siapa
dan aku tak ounya pekerjaan tuk menjamin masa depan Ranaa. Tak selamanya aku
bisa menjaga Ranaa. Hanya kau orang yang kupercaya bisa menyayangi Ranaa?”
“ Sejauh itukah kau akan pergi,
If? Cobalah cari pekerjaan yang dekat sini?”
“ Ga ada pilihan lain. Emm.. jika
Ranaa merepotkanmu biarlah dia aku bawa ke Bahrain?”
“ Kamu gila Raaif. Kamu ga boleh
bawa dia pergi jauh! Aku janji akan menjaganya disini”
“ Tapi suamimu?”
“ Suamiku tentu akan bahagia
mendapat seorang anak kareena..?”
“ Karena apa?”
“ Karena rahim ku diambil, If?
Ada kista di leher rahimku, sampai kapanpun aku tak akan punya anak” ujar Alya
amat berat
“ Ku mohon jaga Ranaa dengan Baik
ya? Aku percaya kau akan menjadi ibu yang baik untuk anakku?”
“ Pasti.. pasti, if?”
Tak terasa sudah 2 tahun Ranaa di
tinggal pergi oleh ayahnya, dan selama itu pula tak ada stu kabar pun dari
Raaif. Alya tak tahu bagaimana keadaan Raaif sekarang.
“ Mama, mama kok nangis? Mama
sakit ya?” ujar Ranaa memandang sayang Alya
“ Ga sayang, mama sayang Ranaa?”
ujar Alya mencium takzim kepala Ranaa
“ Papa .. papa pulllaaangggg?”
“Ranaa, andai kamu tahu
sebenarnya aku dan Ramzi bukan orang tua kandungmu? Raaif aku penuhi janjiku
untuk menjaga anakmu..” batin Alya
9
Mei 13

Tidak ada komentar:
Posting Komentar